Jumat, 13 Februari 2015

Pembimbing Angker Gue



Berlanjut pada hari-hari berikutnya, bahkan 2 tahun telah berlalu sejak pertama kali gue bimbingan skripsi bersama dosen tersebut. Kesan angker tersebut tidak pernah hilang dari ingatan gue. 2 tahun broo, bayangkan aja dua tahun bimbingan untuk meraih gelar sarjana S1, dari bimbingan sambil bawa menyan 10 kg sampai bawa menyan 1 ton kesana.
            Kesan angker lainnya yang gue temui selama ini adalah senyuman dosen pembimbing. Kalau lo liat senyumannya, lo kayak terhipnotis, kemudian terpancar cahaya dibelakangnya, ada kepakan sayap putih, ditambah ada sebuah ring melingkar di kepalanya, malaikat brooo…
            Tapi disaat senyum berakhir, lo baru sadar kalau lo baru siap di tusuk-tusuk pake pake di jantung lo. Dan ini gue rasakan bersama junior satu dosen pembimbing sama gue.
            Skripsi gue itu jalannya kayak roda pedati, kadang ada diatas kadang ada dibawah. Diatas maksudnya kalau gue siap bimbingan maka skripsi tersebut gue tarok diatas kepala sambil senyum setan. Dibawah maksudnya kalau gue di PHP in sama dosen gue untuk bimbingan yang kagak jadi, skripsi gue langsung gue injak-injak.
            Yah, PHP, gue udah terlalu sering di PHP-in, udah bikin janji bimbingan hari selasa, tiba-tiba dibatalin, janji lagi hari selasa depan gue nya telat lima menit, dibatalin. Janji lagi selasa depan dosennya telat, gue batalin. Habis itu gue di ceramahin seharian.
            Setiap kali gue bimbingan pasti ada aja dosen yang gangguin gue. Mulai dari membahas masalah perkuliahaan, proyek dosen, dosen curhat, dosen curhat sampai nangis, nangis sampai air mata dan matanya keluar barengan. Dan gue selalu jadi korban disuruh nunggu diluar sampai tu dosen pengganggu keluar. Giliran dosen pengganggu keluar, pembahasan skripsi gue dibatalin, karena dosen pembimbing gue juga ikutan nangis, dan matanya yang keluar karena nangis kebawa sama dosen pengganggu tadi.
            Walaupun diperlakukan seperti itu, gue tetap sabar dan bertahan selama dua tahun ini. Temen-temen gue bilang kalau gue hebat, gue the best, karena hanya gue yang mampu melewati ujian seberat ini. Awalnya gue bangga dibilang hebat, tapi ketika semua temen-temen gue wisuda, gue galau, gue rapuh, gue hilang arah, berasa Cuma gue orang terakhir yang hidup di dunia ini. Sejak saat itu gue menyendiri di kamar, garuk-garuk tembok dan temboknya garuk-garuk gue.(continue…)

Kamis, 12 Februari 2015

Ruangan Dosen Angker



Menginjak masa-masa rentan dalam kehidupan kampus alias masa-masa lo jadi mahasiswa tahun akhir, itu adalah masa-masa dimana lo jadi orang paling galau sedunia. Menurut gw sekarang ini jadi  mahasiswa tahun akhir gak gampang-gampang amat, tergantung lo dapat dosen pembimbing yang kayak gimana.
Beruntung banget kalau lo dapat pembimbing yang baik serta care sama lo, coba lo bayangin dapat pembimbing angker, aaahh pasti lo gak bisa bayangin deh, karena lo gak dapat pembimbing angker kayak gue. Dunia seraasa mau kiamat, dalam otak gue pastinya.
Gue punya pembimbing angker, lebih parah dari pada pembimbing killer, asal lo tau aja, dosen killer adalah dosen yang pelit ngasih lo nilai, setiap kali lo ngambil mata kuliah sama tu dosen, nilai lo dibawah rata-rata, bahkan bisa jadi BL (belum lulus), itu masih mending, karena lo bisa cari dosen mata kuliah yang lain.
Lo mau tau dosen angker kayak gymana? tau kan definisi angker? Ya itu lah definisi angker. Dosen pembimbing gue orangnya baik, murah senyum, satu-satunya yang bergelar professor di jurusan gue, keren kaan. Dosen gw orang yang di segani di jurusan gue, bahkan gw mikir dosen gw ini Ratu Elisabet di jurusan gw.
Namun ada satu hal yang membuat citra dosen gw menjadi angker, tapi angker khusus, alias hanya berlaku bagi mahasiswa bimbingannya saja. Dan gue termasuk salah satu di dalamnya.
Suasana angker sudah mulai terasa ketika lo masuk kedalam ruangannya, mulai dari bau ruangannya, cahaya ruangannya bahkan orang di dalam ruangannya sekalipun. Kalau lo mau masuk kedalam, lo harus siapin menyan 2 kg, kembang 7 rupa segerobak dan segala jenis keluarganya.
Bukan Cuma itu, kalau lo lewat di depan ruangannya, rasanya itu lo ditarik untuk masuk kedalam, semacam ada gaya grafitasi yang mendorong lo untuk masuk. Pertama-tama kaki lo akan terasa berat, tubuh lo akan memaksa lo ketempat yang tidak di inginkan, walaupun lo teriak “lepaskan aku, lepaskan aku” hal itu tidak akan berpengaruh sedikitpun, saran gue adalah lo jangan lewat depan ruangan pembimbing gue yang satu ini, titik.
Itu baru hari pertama, jadi gak perlu lo bayangin hari-hari berikutnya.(continue…)

Rabu, 11 Februari 2015