Berlanjut pada hari-hari berikutnya, bahkan 2 tahun
telah berlalu sejak pertama kali gue bimbingan skripsi bersama dosen tersebut. Kesan
angker tersebut tidak pernah hilang dari ingatan gue. 2 tahun broo, bayangkan
aja dua tahun bimbingan untuk meraih gelar sarjana S1, dari bimbingan sambil
bawa menyan 10 kg sampai bawa menyan 1 ton kesana.
Kesan
angker lainnya yang gue temui selama ini adalah senyuman dosen pembimbing. Kalau
lo liat senyumannya, lo kayak terhipnotis, kemudian terpancar cahaya
dibelakangnya, ada kepakan sayap putih, ditambah ada sebuah ring melingkar di
kepalanya, malaikat brooo…
Tapi
disaat senyum berakhir, lo baru sadar kalau lo baru siap di tusuk-tusuk pake pake
di jantung lo. Dan ini gue rasakan bersama junior satu dosen pembimbing sama
gue.
Skripsi
gue itu jalannya kayak roda pedati, kadang ada diatas kadang ada dibawah. Diatas
maksudnya kalau gue siap bimbingan maka skripsi tersebut gue tarok diatas kepala
sambil senyum setan. Dibawah maksudnya kalau gue di PHP in sama dosen gue untuk
bimbingan yang kagak jadi, skripsi gue langsung gue injak-injak.
Yah,
PHP, gue udah terlalu sering di PHP-in, udah bikin janji bimbingan hari selasa,
tiba-tiba dibatalin, janji lagi hari selasa depan gue nya telat lima menit,
dibatalin. Janji lagi selasa depan dosennya telat, gue batalin. Habis itu gue
di ceramahin seharian.
Setiap
kali gue bimbingan pasti ada aja dosen yang gangguin gue. Mulai dari membahas
masalah perkuliahaan, proyek dosen, dosen curhat, dosen curhat sampai nangis, nangis
sampai air mata dan matanya keluar barengan. Dan gue selalu jadi korban disuruh
nunggu diluar sampai tu dosen pengganggu keluar. Giliran dosen pengganggu
keluar, pembahasan skripsi gue dibatalin, karena dosen pembimbing gue juga
ikutan nangis, dan matanya yang keluar karena nangis kebawa sama dosen pengganggu
tadi.
Walaupun
diperlakukan seperti itu, gue tetap sabar dan bertahan selama dua tahun ini. Temen-temen
gue bilang kalau gue hebat, gue the best, karena hanya gue yang mampu melewati
ujian seberat ini. Awalnya gue bangga dibilang hebat, tapi ketika semua
temen-temen gue wisuda, gue galau, gue rapuh, gue hilang arah, berasa Cuma gue
orang terakhir yang hidup di dunia ini. Sejak saat itu gue menyendiri di kamar,
garuk-garuk tembok dan temboknya garuk-garuk gue.(continue…)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar