Kamis, 12 Februari 2015

Ruangan Dosen Angker



Menginjak masa-masa rentan dalam kehidupan kampus alias masa-masa lo jadi mahasiswa tahun akhir, itu adalah masa-masa dimana lo jadi orang paling galau sedunia. Menurut gw sekarang ini jadi  mahasiswa tahun akhir gak gampang-gampang amat, tergantung lo dapat dosen pembimbing yang kayak gimana.
Beruntung banget kalau lo dapat pembimbing yang baik serta care sama lo, coba lo bayangin dapat pembimbing angker, aaahh pasti lo gak bisa bayangin deh, karena lo gak dapat pembimbing angker kayak gue. Dunia seraasa mau kiamat, dalam otak gue pastinya.
Gue punya pembimbing angker, lebih parah dari pada pembimbing killer, asal lo tau aja, dosen killer adalah dosen yang pelit ngasih lo nilai, setiap kali lo ngambil mata kuliah sama tu dosen, nilai lo dibawah rata-rata, bahkan bisa jadi BL (belum lulus), itu masih mending, karena lo bisa cari dosen mata kuliah yang lain.
Lo mau tau dosen angker kayak gymana? tau kan definisi angker? Ya itu lah definisi angker. Dosen pembimbing gue orangnya baik, murah senyum, satu-satunya yang bergelar professor di jurusan gue, keren kaan. Dosen gw orang yang di segani di jurusan gue, bahkan gw mikir dosen gw ini Ratu Elisabet di jurusan gw.
Namun ada satu hal yang membuat citra dosen gw menjadi angker, tapi angker khusus, alias hanya berlaku bagi mahasiswa bimbingannya saja. Dan gue termasuk salah satu di dalamnya.
Suasana angker sudah mulai terasa ketika lo masuk kedalam ruangannya, mulai dari bau ruangannya, cahaya ruangannya bahkan orang di dalam ruangannya sekalipun. Kalau lo mau masuk kedalam, lo harus siapin menyan 2 kg, kembang 7 rupa segerobak dan segala jenis keluarganya.
Bukan Cuma itu, kalau lo lewat di depan ruangannya, rasanya itu lo ditarik untuk masuk kedalam, semacam ada gaya grafitasi yang mendorong lo untuk masuk. Pertama-tama kaki lo akan terasa berat, tubuh lo akan memaksa lo ketempat yang tidak di inginkan, walaupun lo teriak “lepaskan aku, lepaskan aku” hal itu tidak akan berpengaruh sedikitpun, saran gue adalah lo jangan lewat depan ruangan pembimbing gue yang satu ini, titik.
Itu baru hari pertama, jadi gak perlu lo bayangin hari-hari berikutnya.(continue…)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar